• Sampai Kapan Vaksin Bahan Babi Digunakan? Apa Masih Tetap Alasannya Darurat!

    Jum'at, 12 Zulhijjah 1439 H / 24 Agustus 2018 M 10:00:37 WIB

    KAJIANMEDAN -- Persoalan penggunaan Vaksin yang diproduksi dari bahan babi bukan kali ini saja terjadi. Beberapa tahun belakangan persoalan seperti ini juga sudah ada.

    Ingat Vaksin Meningitis produk dari Belgia yang diberikan untuk calon jamaah haji? Vaksin tersebut juga pernah menjadi persoalan sama halnya dengan Vaksin Measles Rubella (MR) produk Serum Institut OF India (SII) yang saat ini sedang dipersoalkan.

    Meski kedua Vaksin tersebut berbeda sasaran penggunaannya tetapi untuk tujuannya sebernanya sama yakni mencegah penularan penyakit dan sekaligus bermanfaat menghasilkan kekebalan tubuh. Vaksin Meningitis Belgia sasarannya khusus calon jamaah haji sedangkan Vaksin MR SII sasarannya anak-anak yang berusia 9 bulan sampai dengan 15 tahun.

    Namun berdasarkan hasil Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) sudah mengumumkan kedua Vaksin itu terdapat bahan dari babi dalam produksinya.

    Sebagai Umat Islam tentu kita mempunyai Al-Qur'an dan Hadist sebagai pedoman untuk menjalani kehidupan. Persoalan apapun baik mengenai masalah kepemimpinan, masalah ekonomi maupun masalah kesehatan semuanya ada.

    Mengenai masalah kesehatan yang saat ini sedang menjadi persoalan, coba baik-baik kita simak riwayat hadist dibawah ini.

    "Tidaklah Allah menurunkan sebuah penyakit melainkan menurunkan pula obatnya,"HR. Al-Bukhari dan Muslim).

    "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang dari obat yang buruk (haram),"(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

    Hal tersebut disampaikan Ustad Dr. H Abdul Rahman Lc SE MA pada Reporter Kajian Medan dirumahnya di Jalan Puri Gang Mawar, Kamis (23/08/18) siang.

    Ustad Abdul Rahman yang merupakan Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir menyampaikan, keputusan MUI terhadap Fatwa ketentuan hukum penggunaan Vaksin MR SII yang menggunakan
    istilah darurat syar'iyyah dinilai tak tepat sasaran.

    Ustad menjelaskan, penggunaan istilah darurat dalam ajaran agama Islam harus secara mendalam dipahami. "Darurat itu kalau tak ada alternatif atau solusi lainnya lagi, tinggal itu yang ada dan saat itu mengancam keselamatan,"ujar ustad yang juga dosen di UINSU (Universitas Islam Sumatera Utara).

    Ustad mencontohkan misalnya, ada orang tersesat di hutan saat itu merasa kelaparan kali dan harus makan untuk bertahan hidup kalau gak makan dia bakalan mati. Dan yang ada tinggal yang haram disaat itu boleh itupun sekedar saja tak boleh berlebihan.

    "Tapi kalau yang halal masih ada bisa dia makan tapi memilih makan haram itu tak benar lah. Begitu juga soal Vaksin MR ini, apa sekarang juga kalau tidak diberikan ke anak-anak kita keselamatan mereka langsung terancam sehingga istilah darurat syar'iyyah harus digunakan. Kan saya pikir tidak begitu,"tukas ustad yang juga se-almamater dengan ustad Abdul Somad ini.

    Diketahui, Vaksin Meningitis Belgia yang juga bahan haram digunakan beberapa tahun sebelum Vaksin tersebut diganti dengan Vaksin dari yang halal.

    "Bukan kali ini saja kondisi kita seperti ini sebelumnya juga sudah pernah terjadi, kita kan mayoritas beragama islam harusnya kan pemerintah lebih memprioritaskan untuk mencari dan meneliti Vaksin-vaksin yang tidak bertentangan dalam ajaran agama kita,"tutur ustad.

    Dan inilah salah satu tanda kondisi akhir zaman berdasarkan hadist dari Nabi. Kondisi dimana ketika manusia sudah lagi tidak peduli yang mana halal mana yang haram.

    Reporter : Sahrul R

Bagikan : Google Facebook Twitter


Posting Terbaru