• Perbedaan Soal Idul Adha, Ustad Iskandar dan Ustad Sofyan Saha : Kita Ikut Pemerintah Saja!

    Senin, 8 Zulhijjah 1439 H / 20 Agustus 2018 M 08:10:02

    KAJIANMEDAN.ID -- Pemerintahan Indonesia melalui Sidang Isbat Kementrian Agama (Kemenag) sudah mengumumkan dan menetapkan bahwa hari raya Idul Adha 1439 H, jatuh di hari Rabu (22/08/18). Sedangkan pemerintah Arab Saudi sebelumnya menetapkan pada hari Selasa (21-08-18).

    Perbedaan pandangan ini menuai beberapa kritikan, salah satunya dari Hizbut Tahrir Indonesia melalui surat pernyataan yang sudah beredar di media sosial.

    Surat pernyataan yang dikeluarkan dengan No:300/18 Agustus 2018 M/08 Dzulhijjah 1439 H, melalui Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto, menyerukan agar Umat Muslim mengambil pelajaran dalam peristiwa ini.

    Hal itu tertuang dalam surat pernyataan poin terakhir yakni poin ke Tiga (3) yang berbunyi, menyerukan kepada seluruh Umat Islam khususnya di Indonesia untuk menarik pelajaran dari peristiwa ini.

    Perbedaan pandangan ini bukti bahwa Umat Islam tidak bersatu dan sedang terpecah belah, termasuk dalam hal perkara Ibadah. Bila keadaan seperti ini terus berlangsung bagaimana mungkin Umat Islam akan mampu mewujudkan kerahmatan Islam yang telah dijanjikan Allah?.

    Karena itu perpecahan ini harus dihentikan, caranya Umat Islam harus bersungguh-sungguh dengan segala daya dan upaya masing-masing, untuk berjuang bagi tegaknya kembali Khilafah Islam.

    Ahad (19/08/18), melalui via seluler Ustad Iskandar dan Ustad Sofyan Saha menjelaskan perbedaan pandangan antara Ulama kita dikarenakan berbeda cara dalam memahami nusus ayat atau hadist.

    Perbedaan pandangan antara Indonesia dan Arab Saudi dalam penetapan Idul Adha dikarenakan biasanya karena hilal terlihat di Arab Saudi sedangkan di Indonesia tidak terlihat.

    "Setahu saya itu penyebab perbedaan pandangannya. Saat ini pemerintah indonesia kita masih pake ru'yah hilal. Jadi kalau saya ditanya, cenderung memilih pendapat ulama yang mengajak kita berpuasa dan berhariraya dengan pemerintah. Wallahu A'lam,"ujar kedua ustad.

    Pandangan ini berlandaskan dari pendapat Syekh Al Utsaimin, Imam Assuyuti dan Al Imam Assindy. Mereka mensyarah hadits yang artinya : Puasa kalian adalah di hari manusia puasa dan hariraya kalian adalah pada saat manusia berhariraya.

    "Maksud nya manusia disitu adalah para pemerintah, biarkan mereka yang menetapkannya,"ujar ustad iskandar.

    Sebelumnya, Menteri Agama Indonesia Lukman Hakim Saifuddin dan ketua MUI Ma'ruf Amin dalam keterangannya disalah satu media juga menghimbau agar Masyarakat jangan risau terhadap perbedaan pandangan ini.

    "Perbedaan pandangan ini sangat wajar dan biasa terjadi, gak usah dibesar-besarkan,"kata keduanya.

    Reporter: Sahrul

Bagikan : Google Facebook Twitter


Posting Terbaru