• Islam Nusantara adalah istilah daur ulang dari Islam Liberal

    Rabu, 26 Zulqa'dah 1439 H / 8 Agustus 2018 M 09:50:55 WIB

    KAJIANMEDAN.ID -- Wawancara Eksklusif Bersama Ustad Marwan Rangkuti.

    Bagaimana pandangan ustad mengenai istilah Islam Nusantara?

    Islam Nusantara adalah istilah daur ulang dari Islam Liberal, muatan yang dibawanya sebenarnya yakni liberalisme yang berakibat akan mereduksi makna Islam yang khas. Penyematan kata 'Nusantara' hanya sebagai cara agar lebih mudah diterima di Indonesia setelah sebelumnya proyek Islam Liberal telah gagal.

    Istilah Islam Nusantara tidak dikenal dalam literatur Islam klasik maupun kontemporer, kecuali hanya dari lisan para pemikir Liberal yang berkedok Islam.

    Istilah Islam Nusantara itu mengandung dua bahaya laten yang harus diwaspadai oleh umat.

    Pertama, bahayanya akan dapat mengkaburkan makna Islam dengan menyesuaikan Islam terhadap budaya Nusantara. Artinya, Islam dihukumi oleh nilai-nilai Nusantara atau Islam diletakkan dibawah nilai-nilai Nusantara, jelas ini merendahkan dan akan mengkaburkan Islam.

    Kedua, Islam Nusantara dapat berpotensi memecah belah umat. Sebab, ada usaha memisahkan umat Islam di negeri ini dengan Islam yang ada di negeri-negeri yang lain Ini usaha jahat yang mengkerdilkan umat dan Islam.

    Bagaimana tanggapan ustad tentang pelaksanaan sholat yang diajarkan Islam Nusantara?

    Pertama, perlu dipahami bahwa ibadah sholat adalah perkara tauqifiyah. Yakni, terikat dengan rukun dan syarat yang digali dari dalil-dalil syar'i. Sebagaimana Rasululloh mencontohkan, maka tidak bisa menerima improvisasi ataupun modifikasi apapun itu.

    Bila tetap dilakukan tentu akan merusak ibadah sholat dan pelakunya termasuk dalam katagori melecehkan syariah.

    Apakah menurut ustad, Islam Nusantara adalah ajaran Walisongo?

    Tidak ada bukti historis mengenai hal tersebut, penukilan-penukilan yang sampai kepada kita mengenai Walisongo sering berputar-putar pada qiila wa qaala (katanya dan katanya) yang ditambahi bumbu-bumbu lain diluar Islam.

    Hal tersebut sebenarnya pelecehan atas jasa-jasa para Walisongo yang mana mereka adalah para tokoh Islam yang telah mengkhidmatkan dirinya untuk berdakwah Islam di negeri ini. Penggunaan uslub dan wasilah dari para Walisongo dalam penyampaian dakwah yang diadopsi dari budaya lokal adalah perkara ma'ruf dikalangan ulama mu'tabar. Selama apa yang diadopsi itu tidak bertentangan ataupun berselisih dengan syariah islam.

    Bagaimana solusi menurut ustad untuk mencegah paham Islam Nusantara?

    Pertama, setiap muslim telah diwajibkan untuk terus belajar wa bil khusus ilmu agama, maka jangan pernah kendor untuk belajar tsaqafah-tsaqafah Islam mulai dari bahasa arab,aqidah,ushul fiqh, tafsir al qur'an,hadits dan lain-lainnya. Sebagai bekal untuk mematahkan argumen-argumen bathil yang diusung oleh orang-orang liberal, sekuler yang telah nyata memusuhi Islam.

    Kedua, mengamalkan apa yang dipelajari dengan sungguh-sungguh dan tetap istiqamah.

    Ketiga, mengambil bagian dari dakwah untuk menyampaikan Islam secara kaffah sehingga kampanye miring dan sesat dari musuh-musuh islam dapat dihempang.

    Keempat, umat butuh Khilafah untuk menerapkan Syariah Islam secara kaffah, juga menjaga aqidah umat dari kampanye sesat musuh-musuh Islam. Ini harus menjadi keseriusan bagi kaum muslimin untuk memperjuangkannya.


    Semoga bermanfaat buat kita semua. (admin)

Bagikan : Google Facebook Twitter


Posting Terbaru