• Kitakah Generasi Rabbani?

    Selasa, 9 Rabiul Awwal 1439 H/28 November 2017 M 14:58:34 WIB

    KAJIANMEDAN.ID -- Pernahkah sahabat mengenal istilah Generasi Rabbani? Ditinjau dari tinjauan bahasa, Ibnul Anbari menjelaskan bahwa, kata ‘rabbani’ diambil dari kata dasar Rabb, yang artinya Sang Pencipta dan Pengatur makhluk, yaitu Allah. Kemudian diberi imbuhan huruf alif dan nun (rabb+alif+nun= Rabbanii), untuk memberikan makna hiperbol. Dengan imbuhan ini, makna bahasa ‘rabbani’ adalah orang yang memiliki sifat yang sangat sesuai dengan apa yang Allah harapkan. Kata ‘rabbani’ merupakan kata tunggal, untuk menyebut sifat satu orang. Sedangkan bentuk jamaknya adalah rabbaniyun.

    Terdapat beberapa riwayat, baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in, tentang definisi istilah: “rabbani”. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu, beliau mendefinisikan “rabbani” sebagai berikut: Generasi yang memberikan santapan rohani bagi manusia dengan ilmu (hikmah) dan mendidik mereka atas dasar ilmu. Sementara Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma dan Ibnu Zubair mengatakan: Rabbaniyun adalah orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya.

    Qatadah dan Atha’ mengatakan: Rabbaniyun adalah para fuqaha’, ulama, pemilik hikmah (ilmu). Imam Abu Ubaid menyatakan, bahwa beliau mendengar seorang ulama yang banyak mentelaah kitab-kitab, menjelaskan istilah rabbani: Rabbani adalah para ulama yang memahami hukum halal dan haram dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

    Pemimpin ideal yang terlahir dari generasi cerdas adalah generasi yang: pertama Berkepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyah) yaitu memiliki keimanan kuat terhadap Islam (Aqidah Islam), menjadikan aqidah sebagai landasan dan standar berpikir (aqliyah) dan bersikap (nafsiyah). Menata dan menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan berdasarkan petunjuk Islam (syariah Islam). Memiliki gaya hidup (way of life) yang khas. Segala aktivitasnya didasarkan pada aqidah Islam, proaktif melakukan perubahan di masyarakat menuju kehidupan yang islami, menjadi teladan dan motor perjuangan Islam di tengah masyarakat.

    Kedua, Berjiwa Pemimpin yaitu Memiliki rasa tanggungjawab dan kepemimpinan, memperjuangkan tegaknya syariah Islam hingga menyinari seluruh alam, menjadi teladan dan mengajak umat manusia untuk mengambil jalan Islam. Memiliki tanggungjawab terhadap segala aktivitas dalam kehidupannya. Memahami bahwa hidupnya sarat dengan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada  Allah Swt.

    “Dan Amir itu adalah pemimpin yang mengurusi urusan umat, dia bertanggungjawab dengan segala urusannya.” (Hr. Muslim)

    Sesungguhnya Allah akan menanyakan kepada mereka apa yang telah mereka lakukan.” (Hr. Muslim)

    Ketiga, Mampu Menjawab tantangan Perkembangan Zaman yaitu mampu mengarungi medan kehidupan dengan penuh keberanian, tidak ada yang ditakuti kecuali murka Allah. Hidupnya hanya diabdikan kepada Allah, tidak pernah menyerah pada problem atau konflik yang melanda kehidupannya.

    Dari uraian di atas, sudah dapat dipastikan bahwa Rasulullah adalah satu-satunya teladan dan rujukan untuk menjadi pemimpin muda ideal dambaan umat. Nabi Muhammad Saw telah memerankan diri sebagai agen perubahan dan rujukan alam semesta sejak usia sangat belia hingga di penghujung usianya.

    Berikut rincian kehidupan Rasulullah yang  bisa disimpulkan:

    • Usia 0-4 tahun sudah menjadi yatim: psikologi dan fisik  telah distruktur  dengan baik
    • Usia 4-6 tahun pembelahan dada, kembali ke ibunya: kematangan spiritual dan kecukupan kasih sayang
    • Usia 6-8 tahun tinggal bersama kakeknya: pengalaman politik yang intensif
    • Usia 8 tahun bekerja menggembala kambing bersama pamannya
    • Usia 12 tahun bisnis internasional bersama pamannya
    • Usia 15 tahun pengalaman militer dalam perang Fijar
    • Usia 20 tahun pengalaman diplomatik: pengokohan kredibilitas sosial
    • Usia 25 tahun menikahi Khadijah: kepala keluarga
    • Usia 25-35 tahun telah memiliki pengalaman sebagai kepala keluarga, pedagang, orang kaya, pemuka masyarakat, dan berbagai aktivitas sosial

    Kejayaan Islam memang sangatlah sulit diwujudkan di tengah-tengah alam penuh kezhaliman saat ini. Kenyataan ini masih nan jauh di sana. Oleh karenanya, jalan dakwah ini masih sangatlah panjang. Namun, dengan bekal iman dan semangat jihad yang kuat serta memulai untuk memperbaiki diri sendiri, keluarga dan masyarakat serta mencoba untuk memulai berkarya meski dari hal-hal yang terkecil, lalu Allah pun  akan membukakan jalan untuk berkarya lebih dan lebih sehingga terciptalah kerja-kerja besar. Maka, tidak mustahil kemuliaan Islam akan diraih. Di sinilah dicari pemuda Kahfi yang berjuang demi kebenaran hakiki. Mereka adalah generasi rabbani yang siap menjadi pemimpin umat. (Muhammad Arif)

    (Disari dari Kajian “Membentuk Generasi yang Rabbani” bersama Ustadz H. Abdul Latief Khan, di Masjid Dakwah USU Sabtu, 25 November 2017)

Bagikan : Google Facebook Twitter


Posting Terbaru