• Mengajarkan Al-Quran Sebagai Mahar, Apa Hukumnya?

    Selasa, 9 Rabiul Awwal 1439 H/28 November 2017 M 09:25:20 WIB

    KAJIANMEDAN.ID -- Mahar atau mas kawin adalah harta yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan pada saat pernikahan. Ia merupakan syarat sahnya pernikahan, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

    “…Dan datangkanlah sedekah untuk para istri sebagai nihlah (mahar),” (QS. An Nisa: 4)

    Adapun besar nilainya ditentukan oleh pihak mempelai perempuan. Namun Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam tetap menganjurkan untuk meringankan jumlahnya. Sebagaimana diriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

    Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah.” (HR. Abu Dawud dan Al-Hakim)

    Lalu bagaimana jika tujuannya untuk meringankan mahar, pihak perempuan tidak menuntut materi tapi hanya meminta mahar berupa hafalan al-Quran atau diajarkan bacaan al-Quran untuknya, apakah hukumnya boleh?

    Para ulama ahli fikih berbeda pendapat mengenai masalah ini menjadi tiga pendapat:

    Pertama, sah akad nikah dengan mengajarkan Al-Qur’an sebagai mahar. Ini adalah pendapat Ashbagh bin Al-Farj—salah seorang fuqaha mazhab Malik, pendapat fuqaha mazhab Syafi’i, pendapat Imam Ahmad dalam satu riwayat dan dipilih oleh sebagian fuqaha mazhabnya, serta pendapat Ibnu Hazm. (Asy-Syarh Ash-Shaghir: 1/416; Al-Umm: 5/64; Al Muhadzdzab: 2/72; Al-Hidayah li Abil Khaththab: 1/272; Al-Mughni: 8/8; Al-Muhalla: 9/494)

    Dalil yang menjadi pijakan mereka adalah firman Allah dalam surat Al-Qashash: 27:

    “Dia (Syekh Madyan) berkata, ‘Sesungguhnya aku bermaksud ingin menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua putriku ini, dengan ketentuan bahwa engkau bekerja kepadaku selama delapan tahun dan jika engkau sempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan darimu), dan aku tidak bermaksud memberatkan engkau. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik’,” (Al-Qashash: 27)

    Ayat di atas menjelaskan bahwa Nabi Syu’aib akan menikahkan salah seorang dari dua putrinya dengan menjadikan bekerja selama delapan tahun—sesuatu yang bermanfaat—sebagai mahar. Syariat umat sebelum kita adalah syariat untuk kita juga selama tidak menyelisihi syariat kita. Ini menunjukkan bahwa boleh menjadikan sesuatu yang dapat bermanfaat—di antaranya mengajarkan AlQur’an—sebagai mahar dalam akad nikah.

    Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits Sahl bin Sa’ad AsSa’idi bahwa Rasulullah n bersabda kepada salah seorang shahabat yang tidak memiliki sesuatu pun sebagai mahar, “Apa yang telah engkau hafalkan dari Al-Qur’an?” Dia menjawab, “Surat ini, surat ini, dan surat ini” dia lalu menyebutkan surat-surat yang telah dihafalkannya. Kemudian beliau (Nabi) bersabda, “Ajarkanlah surat-surat tersebut secara hafalan” Dia menjawab, “Baiklah”. Beliau melanjutkan, “Pergilah, saya telah menikahkanmu dengan Al-Qur’an yang engkau hafalkan (sebagai maharnya). (Shahih Al-Bukhari: 6/121-122 dan Shahih Muslim: 2/1040-1041)

    Kedua, tidak sah akad nikah dengan mengajarkan Al-Qur’an sebagai mahar. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan fuqaha mazhabnya, pendapat Imam Malik dan sebagian fuqaha mazhabnya, pendapat Imam Ahmad dalam satu riwayat dan diikuti mayoritas fuqaha mazhabnya. (Syarh Ma’ani Al-Atsar: 3/19-20; Ahkamul Qur’an lil Jashshash: 2/142; Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an lil Qurthuby: 5/133; Asy-Syarhus Shaghîr: 1/416; Al-Kafi: 3/91; Al-Mughni: 8/8)

    Dalil yang menjadi pijakan mereka adalah firman Allah dalam surat An-Nisa’: 24:

    “Dan (diharamkan juga kamu menikahi) wanita yang bersuami, kecuali hamba sahaya perempuan (tawanan perang) yang kamu miliki sebagai ketetapan Allah atas kamu. Dan dihalalkan bagimu selain (wanita-wanita) yang demikian itu jika kamu berusaha dengan hartamu untuk menikahinya bukan untuk berzina” (An-Nisa’: 24)

    Ayat di atas menjelaskan bahwa syarat mahar haruslah berupa harta dan sesuatu yang tidak termasuk harta tidak bisa dinamakan mahar. Mereka juga berdalil dengan hadits Abu Nu’man Al-Azdi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menikahkan seorang wanita dengan mahar salah satu surat Al-Qur’an kemudian beliau bersabda, “Tidak ada seorang pun yang boleh menjadikan (mengajarkan Al-Qur’an sebagai) mahar untuknya setelahmu.” (HR Sa’id bin Manshur dalam Sunan-nya: 176)

    Makruh mahar dengan mengajarkan Al-Qur’an ketika menikahi wanita muslimah. Ini adalah pendapat Ibnul Qasim—salah seorang fuqaha mazhab Malik. (Al-Muntaqa Syarh Muwaththa` Malik: 3/277: Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an lil Qurthuby: 5/133; Asy-Syarhus Shaghîr: 1/416)

    Penulis, Dr. Ahmad Salim mengatakan, “Pendapat yang kuat adalah tidak sah mahar dengan mengajarkan Al-Qur’an jika calon suami mampu memberikan mahar berupa harta. Namun, jika calon suami tidak mampu memberikan mahar berupa harta maka sah menjadikan pengajaran Al-Qur’an sebagai mahar.”

     

    Sumber: Kiblat.net

Bagikan : Google Facebook Twitter


Posting Terbaru