• Runtuhnya Islam Andalusia Jangan Terulang di Indonesia (2)

    Senin, 9 Safar 1439 H/30 Oktober 2017 M 10:59:12 WIB

    KAJIANMEDAN.ID -- Cinta Dunia dan Takut Mati.

    Kemudian pada awal abad ke-16 adalah titik nadir umat Islam Andalusia. Mereka sedang bersiap diri menghadapi keruntuhan, sebuah keruntuhan yang dicatat dalam sejarah. Sebuah keruntuhan yang mengundang kepiluan dan kesedihan yang mendalam.

    Selama delapan abad lamanya mereka berkuasa di Andalusia dan mendirikan sebuah peradaban yang besar, peradaban ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Peradaban yang mengantarkan mereka menjadi kerajaan paling digdaya di seantero dunia saat itu. 

    Bukanlah kekalahan dan kemenangan itu terjadi karena pihak luar, tetapi terjadi pada umat Islam itu sendiri, dengan izin Allah tentunya. Sebagaimana firman Allah swt, Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga ia mengubahnya sendiri.(QS. Ar-Rad: 11)

    Pada saat itu kerajaan Islam Andalusia sudah tercabik-cabik menjadi kerajaan-kerajaan kecil, menjadi 23 kerajaan kecil. Masing-masing anggota kerajaan ingin memiliki kekuasaan. Mereka saling tikam antara satu dengan yang lain. Raja atau sultan silih berganti berkuasa.

    Anak membunuh ayahnya, keponakan membunuh pamannya tampaknya sudah menjadi lumrah pada saat itu. Bahkan yang paling buruk adalah anggota kerajaan itu meminta tolong Raja-Raja Kristen untuk membantu mereka menyingkirkan orang-orang yang menurut mereka menghalangi ambisi mereka dalam meraih kekuasaan.

    Tentu saja setiap bantuan yang diberikan harus dengan imbalan yang memadai. Dan imbalan itu nyatanya sangat besar jumlahnya. Terus saja seperti ini kejadiannya. Dengan sendirinya Raja-raja Kristen menjadi mudah mengadu domba atas sesama anggota kerajaan Islam Andalusia. Daerah kekuasaan Islam Andalusia sedikit demi sedikit digrogoti oleh Kerajaan Kristen.

    Fakta lain, pasti ada saja muncul pahlawan-pahlawan yang menyerukan perang suci menghadapi kaum kufar. Mereka menyerukan kepada kaum muslimin Andalusia untuk bangkit menghadapi pasukan Kristen. Ada saatnya mereka menang, tapi seringkali mereka kalah.

    Hal ini terjadi karena kurangnya dukungan pihak kerajaan terhadap aksi mereka. Mereka berjuang secara sporadis dengan jumlah personel terbatas walaupun sangat mematikan. Salah satu di antara para pahlawan itu adalah Jenderal Musa bin Abi Ghassan.

    Kata-katanya yang paling terkenal, Mati syahid di bawah reruntuhan pagar Granada lebih mulia daripada hidup di bawah penindasan.

    Tetapi suara yang mendominasi saat itu menghendaki Granada diserahkan kepada musuh. Tetapi Musa bin Abi Ghassan tidak setuju. Ia berteriak dan berkata, Kita lebih baik menyebutkan siapa-siapa saja yang menghendaki perjuangan mempertahankan Granada dan siapa yang menghendaki penyerahannya ke tangan musuh.

    Namun sayang, tidak ada seorang pun yang mendengarkan dan mendukungnya. Akhirnya, dia pergi meninggalkan majelis kerajaan dan menunggang kudanya meninggalkan Granada yang merupakan benteng paling utama dari Kerajaan Islam Andalusia.

    Hingga suatu saat dia bertemu dengan sekelompok pasukan Kristen, ia langsung menyerang dengan ganas menggunakan pisau dan pedangnya. Namun, tentara musuh semakin banyak yang mengepungnya. Dan ketika hendak ditawan, ia mengambil inisiatif untuk menyeburkan dirinya ke dalam laut.

    Sementara itu, Raja Abu Abdillah bersegera menyerahkan Granada ke kerajaan Kristen Spanyol. Salah satu dari dua orang yang menjadi negosiator penyerahan Granada ke tangan kerajaan Kristen adalah Ibnu Kamasyah, seorang menteri yang murtad.

    Ia memeluk agama Kristen setelah penyerahan, bahkan menjadi seorang pendeta besar. Bukan hanya menteri yang murtad, banyak dari keluarga kerajaan dan pemuka kaum yang murtad. Mereka memeluk Kristen setelah Granada diserahkan kepada Kerajaan Kristen.

    Mereka adalah, dua orang pangeran, yakni Saad dan Nasr bin Sultan Abil Hasan, ibunya yang bernama Mahma, Pangeran Yahya An-Niyar, anak paman Raja Abu Abdillah bin Zaghl dan Panglima Mariya bersama anak dan istrinya. Nama-nama mereka diganti dengan nama-nama Kristen.

    Demikianlah Andalusia tenggelam karena ruh Islam yang ada dalam jiwa mengalami kematian, sehingga kerusakan pun merajalela. Hal itu diperburuk dengan pengkhianatan terhadap Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang muslim.

    Memudar atau hilangnya peran ulama pada saat itu

    Lantas, di manakah para ulamanya? Himayah tidak membahasnya secara khusus. Padahal poin ini sangat penting untuk dibahas karena para ulama pada hakikatnya memiliki peran yang sentral di tengah masyarakat.

    Dengan resolusi jihad yang dikeluarkan KH Hasyim Asyari contohnya, ini memotivasi umat Islam di Indonesia untuk melawan penjajahan. Namun, ada gambaran tersirat dari tulisan Himayah, betapa lemahnya peran dan pengaruh ulama pada saat itu.

    Karena faktanya majelis kerajaan juga diisi oleh banyak ulama, misalnya di dalamnya ada seorang Qadhi atau Mufti. Tapi mengapa mereka seolah diam, bahkan larut dalam pemikiran Raja yang penuh kelemahan, cinta dunia dan takut mati? Dan akhirnya kekuasaan Islam berakhir di Andalusia, dan belum pernah bangkit lagi hingga detik ini.

    Ustadz Afifi mengambil pelajaran dari kisah Andalusia ini dan membandingkan dengan keadaan umat Islam saat ini, yang sebenarnya tidak ada bedanya dengan keadaan umat Islam di Andalusia pada saat itu. Harapan atas kebangkitan itu selalu ada, asalkan persatuan, tarbiyah, dan ulama, harus menjadi perhatian serius bagi umat Islam yang ingin meraih kejayaannya kembali.

    Hampir semua pra-syarat hancurnya Islam di Andalusia, telah ada dan terjadi di Indonesia. KH Ahmad Dahlan pernah berkata, "Islam tidak akan pernah musnah dari dunia, tapi Islam bisa hilang di negeri ini".

     

    Sumber: Republika

Bagikan : Google Facebook Twitter


Posting Terbaru