• Ayo! ke Pasar Muamalah Medan

    Sabtu, 30 Muharram 1439 H/21 Oktober 2017 M 11:25:27 WIB

    KAJIANMEDAN.ID -- Sahabat KajianMedan pernah mendengar Pasar Muamalah? Pasar ini sempat beberapa kali diselenggarakan di pelataran masjid dan kampus di kota Medan. Terakhir kali pada Mei lalu di Kampus UISU. Dan hari ini pasar muamalah akan berlangsung di Masjid Al Jihad Abdullah Lubis, Medan Sabtu, 21 Oktober 2017, dimulai pukul 09.00 hingga pukul 16.00 sore. Pasar ini merupakan pasar yang digiatkan oleh Persyarikatan Dagang Nusantara (Perdana) Sumatera Utara serta Baitul Mal Nusantara.

    Memudahkan dan dimudahkan, begitu prinsip pasar yang masih berbentuk bazar keliling ini, tidak menerapkan sewa atau pajak pada para pedagangnya. Siapa saja bisa mendaftar sesuai kapasitas luas pasar yang disediakan. Sangat berbeda dengan bazar yang biasa kita temui.
    "InsyaAllah nanti para pembelinya juga ada dari para mustahik. Jadi sebelum acara pasar muamalah, akan dibagikan zakat kepada para mustahik di sekitar mesjid al-jihad dalam bentuk dirham. Salah 1 tujuan pasar muamalah ini adalah untuk melayani para mustahik td membelanjakan dirhamnya," jelas Tikwan Raya Siregar, pengusaha dan pegiat Perdana Sumut.

    "Dinar & dirham bukan untuk dirupiahkan kembali. Melainkan untuk muamalah (jual beli, mahar, sedekah dan lain-lain). Dinar dan dirham inilah uang sebenarnya. Perlahan untuk menggantikan posisi uang kertas. Lebih lanjut nanti akan ada kajiannya pada saat acara pasar muamalah ba'da zuhur oleh Amir Syahrizal Moeis," lanjutnya.

    Dinar adalah emas 4,25 gram, 92%. Dirham adalah perak 2,975 gram, 99,9%. Kedua pecahan uang ini disebut "nuqud", yaitu alat ukur dalam pembayaran zakat mal. "Hilangnya nuqud ini dalam kehidupan Muslimin telah merobohkan salah satu rukun menunaikan zakat harta. Tugas kita adalah menghadirkan nya kembali dalam kehidupan kita, muamalah, sedekah, waqaf, infaq dan sebagainya. Agar syarat (rukun) pembayaran zakat dapat dipenuhi. Dan agar kita tidak lagi ditimpa kemalangan inflasi uang kertas yang makin menjadi-jadi. Agar Ibu-Ibu yang bekerja keras memenuhi keperluan keluarganya tidak lagi kita dengar mengeluh tiap hari, 'Harga-harga semakin naik, uang tak lagi cukup'", jelas Tikwan. Karena memang nilai uang kertas terus merosot, meskipun jumlah angkanya terus naik.

    "Nah, kita menjamin timbangan bagi dinar dirham yang dikeluarkan oleh Sultan Bintan, Kasepuhan Cirebon, Sultan Sulu, Mangku Negeri Ketapang, Sultan Kelantan Malaysia. Satu lagi, World Islamic Mint atau Wakala Induk Nusantara, yang saat ini sudah berubah menjadi Wakala Induk Bintan," tambahnya. (win)

Bagikan : Google Facebook Twitter


Posting Terbaru