• Hukum Shalat di Masjid yang Memiliki Makam

    Jum'at, 22 Muharram 1439 H/13 Oktober 2017 M 10:30:16 WIB

    KAJIANMEDAN.ID -- Tidak sedikit masjid di Tanah Air yang di dalamnya terdapat area makam atau pekuburan. Beberapa wali, habib, ulama, dan orang-orang yang semasa hidupnya dikenal saleh dikubur di dalam masjid tersebut.

    Ada beberapa pendapat yang membolehkan tentang shalat di dekat kuburan yang terletak di area masjid. Pendapat lain memakruhkan bahkan mengharam kannya.

    Ulasan yang dilansir dari Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengungkapkan, shalat di masjid yang di dalamnya ada makam para wali merupakan hal yang dibolehkan. Bahtsul Masail beralasan jika tidak ada larangan pemakaman jenazah di pekarangan masjid.

    Karena itu, saat memperluas Masjid Nabawi, umat Islam tidak bersusah payah memindahkan makam Rasulullah SAW. Mereka juga memakamkan Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin Khattab di dekat makam Rasulullah SAW. Letak tiga makam tersebut di dalam masjid menjadi contoh bahwa tidak ada larangan membuat makam di dalam masjid.

    Bahtsul Masail pun mengutip pandangan Syekh Muhammad Ibrahim al-Hafnawi yang bermazhab Hanafi. Syekh Hafnawi berpendapat, shalat di makam para wali yang saleh adalah sah sejauh syarat dan rukun yang ditetapkan terpenuhi menurut syara. Shalat tersebut ditujukan ke pada Allah SWT, bukan ahli kubur.

    Karena itu, tidak mungkin ber pendapat batal atau haramnya shalat di masjid yang ada makamnya. Jika ada pendapat yang membatalkan dan mengharamkan shalat di dalam masjid, niscaya batal dan haram pula shalat umat Islam di Masjid Nabawi.

     Karena itu, Bahtsul Masail ber pendapat bahwasanya niat di dalam shalat yang ditujukan ke pada Allah SWT bukan kepada ahli kubur memegang peran pen ting sah tidaknya shalat. Di mana pun tempatnya, shalat tetap sah selama terpenuhi aturan syara.

    Hadis yang berasal dari sahabat Jabir bin Abdullah yang diriwayatkan dari Imam Bukhari pun mengungkapkan, shalat di boleh kan untuk dikerjakan di mana pun karena bumi sudah dijadikan sebagai masjid yang suci. "... Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada salah seorang pun nabi sebelumku: Aku ditolong dengan perasaan takut (musuh) sejauh perjalanan satu bulan; dijadikan bagiku masjid itu (tempat sujud) dan suci, di mana orang dari kalangan umatku yang tiba waktu shalat maka hendaklah ia shalat (di tempat itu)...."

    Hanya, hadis tersebut rupanya tidak berdiri sendiri. Ada hadis lain nya yang mengetengahkan larangan shalat di beberapa tempat tertentu. Termasuk kamar mandi dan kuburan. "Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Bumi itu seluruhnya adalah masjid (tem pat sujud) kecuali kamar mandi dan kuburan. (HR Ibn Hibban).

    Majelis Tarjih PP Muham madi yah mengungkapkan, masjid adalah sebuah bangunan yang di dirikan khusus untuk beribadah kepada Allah, seperti iktikaf, zi kir, shalat, dan sebagainya. Sementara, kuburan adalah tempat untuk mengebumikan mayat ma nusia. Seharusnya dua tempat itu dipisahkan dan tidak dicampur kan. Menyatukan tempat ibadah dan kuburan pernah dilakukan umat Nasrani sehingga mendapat laknat dari Allah SWT.

    "... Tatkala disampaikan ke pada Nabi SAW bahwa istri-istri beliau menyebut tentang gereja, kami melihat gereja di negeri Habasyah yang dinamakan Maria. Ummu Salamah dan Ummu Haibah pernah datang di negeri Habasyah, maka ia menyebut tentang kebagusannya dan gambargambar yang ada di dalamnya.

    Maka, Rasulullah SAW mengangkat kepalanya lalu bersabda: 'Mereka (orang Nasrani itu) jika di antara orang-orang saleh mereka meninggal dunia, mereka membangun gereja di atas kuburannya, kemudian melukis berbagai lukisan di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah." (HR al-Bukhari, Mus lim, dan an-Nasai).

    Tidak hanya itu, ada juga hadis-hadis yang khusus melarang umat Islam untuk menghadap kuburan. "Diriwayatkan dari Abu Mart sad al-Ghinawi, ia berkata: Ra sulullah SAW bersabda: Janganlah kamu duduk di atas kuburan dan janganlah kamu shalat menghadap ke arahnya."(HR Mus lim).

    Dengan demikian, Majelis Tarjih Muhammadiyah berpendapat jikalau shalat di masjid yang ada kuburan di dalamnya dan shalat menghadap kuburan itu hukumnya makruh. Karena itu, lebih baik ditinggalkan. Meski demikian, kalaupun dilakukan, maka shalat itu sah selama kuburan itu tidak dijadikan sebagai sesembahan.

    Mengenai adanya makam yang diletakkan di dalam Masjid Nabawi, ulama-ulama salaf mengemukakan jikalau makam Nabi dan dua sahabat pada mulanya berada di rumah kediaman Rasulullah SAW. Setelah adanya perluasan Masjid Nabawi, makam ini baru masuk ke dalam area masjid pada 94 Hijriyah. Makam itu pun disebutkan tidak termasuk dalam bangunan masjid karena adanya pemisah berupa dinding yang mengelilinginya dan menyimpang dari arah kiblat.

    Kalaupun ada yang berpendapat makam itu ada di dalam Mas jid Nabawi, maka makam itu men dapat pengecualian. Ibnu Tai miyyah menegaskan hukum ini pada kitabnya yang berjudul Al-Jawab Al-Bahir fi Zuril Ma qabir (22/1-2): "Shalat di masjidmasjid yang dibangun di atas ku buran terlarang secara mutlak [7].

    Lain halnya dengan masjid Nabi Shalallahu 'alaihi wa Sallam karena shalat di dalamnya bernilai seribu shalat (di masjid-masjid lain) dan masjid ini dibangun di atas ketakwaan, di mana kehormatannya (kemuliaannya) terpelihara pada masa hidup beliau Shalallahu 'alaihi wa Sallam dan masa al-Khulafa`ur Rasyidin, se belum dimasukkannya kamar (ru mah) tempat penguburan be liau Shalallahu 'alaihi wa Sallam sebagai bagian dari masjid. Dan hanyalah sesunggguhnya (perluasan masjid dengan) memasuk kan kamar tersebut sebagai bagi an dari masjid terjadi setelah ber lalunya masa para shahabat." Wallahualam.

    Sumber: Republika

Bagikan : Google Facebook Twitter


Posting Terbaru