• Ancaman UU Anti-Syariah di Tengah Kehidupan Muslim AS

    Selasa, 12 Muharram 1439 H/3 Oktober 2017 M 09:26:16 WIB

    KAJIANMEDAN.ID -- Tahun ini, sedikitnya 13 negara bagian di Amerika Serikat telah memperkenalkan undang-undang yang berusaha melarang syariat Islam. Para peneliti mengatakan, Texas dan Arkansas tengah memberlakukan UU anti-Syariah tersebut.

    Undang-undang tersebut dikhawatirkan berdampak pada meningkatkan sentimen anti-Muslim. Menurut sebuah laporan dari University of California, Berkeley’s Haas Institute for a Fair and Inclusive Society, sedikitnya 194 UU antara tahun 2010 dan 2016 berpotensi mengkriminalkan ketentuan dalam syariat Islam.

    “Gerakan hukum anti-Syariah, dengan cara memperkenalkan dan memberlakukan undang-undang anti-Syariah di seluruh Amerika Serikat, berusaha untuk melegalkan tindakan pihak lain selain Muslim, dan juga untuk mengabadikan phobia Syariah, Islam dan akhirnya Muslim,” kata Basima Sisemore, seorang peneliti dan penulis Legalising Othering: The United States of Islamophobia.

    Pada bulan Juni, Gubernur Texas Greg Abbott menandatangani undang-undang House Bill 45, yang mencegah penggunaan “undang-undang asing” di pengadilan negeri, khususnya dalam kasus-kasus terkait perkawinan atau masalah hukum mengenai orang tua dan anak-anak mereka.

    Lebih lanjut, Sisemore mengatakan bahwa UU tersebut memiliki efek negatif terhadap umat Islam. Dimana dapat memicu kefanatikan di tengah seruan Presiden AS Donald Trump untuk menargetkan kelompok minoritas Islam.

    “Konsekuensi mengenalkan atau memberlakukan undang-undang anti-Muslim melampaui tujuan yang mencolok untuk menumbangkan kewarganegaraan dan kebebasan sipil Muslim Amerika, seperti yang telah ditunjukkan oleh bangkitnya demonstrasi anti-Syariah yang melanda AS pada bulan Juni tahun ini,” katanya seperti dikutip Al-Jazeera, Senin (02/10).

    “Kenyataannya adalah bahwa undang-undang anti-Muslim mengancam demokrasi Amerika dan hak-hak sipil dan konstitusional semua orang Amerika,” imbuhnya.

    Pada bulan Juni, kurang dari enam bulan jabatan Presiden Donald Trump, sentimen Islamophobia meledak dan demonstrasi anti-Syariah berlangsung di sekitar 28 kota di seluruh negeri.

    Lembaga pengawas dari Southern Poverty Law Center (SPLC) menggambarkan demonstrasi tersebut sebagai gerakan anti-Muslim akar rumput terbesar di AS.

    “Diperkirakan lebih dari 500.000 anggota ACT for America mendukung Trump,” kata lembaga itu. Para anggotanya telah mengkampanyekan undang-undang yang ketat untuk menargetkan umat Islam dan pengungsi dalam beberapa tahun terakhir.

    Demonstrasi tersebut menarik gerakan supremasi kulit putih, kelompok milisi bersenjata dan neo-Nazi untuk terlibat. Namun, peserta demonstrasi anti-Syariah kalah jumlah oleh pendemo yang kontra, di antaranya dari kelompok anti-rasis dan anti-fasis yang bentrok dengan demonstran anti-Muslim.

    Orasi Trump Menjadi Amunisi Gerakan Anti-Syariah

    Meskipun gerakan anti-Syariah lahir setelah serangan 11 September di tahun 2001, para pengamat mengatakan bahwa Donald Trump telah memberi energi kepada mereka.

    Nathan Lean, pengarang bukun “Islamophobia Industry”, mengatakan bahwa retorika Trump secara tidak adil menargetkan dan memfitnah Muslim dengan setengah kebenaran, kebohongan terang-terangan dan hasrat terang-terangan.

    “Poin dalam undang-undang anti-Syariah adalah bagian dari usaha bersama untuk memelihara suasana ujaran kebencian ekstrem yang menganggap umat Islam sebagai musuh,” ujarnya.

    “Sekali [Muslim] dicap seperti itu, menjadi lebih mudah untuk menganiaya mereka dan melakukan kekerasan terhadap mereka. Yang telah kita lihat, ini menjadi konsekuensi alami dari hal itu,” imbuh Lean.

     

    Sumber: Kiblat.net

Bagikan : Google Facebook Twitter


Posting Terbaru