• Ustadz Abu Zahid Marwan Rangkuti (bag 1)

    Belajar dan Beramal Terus Menerus

    Senin, 19 Djulhijjah 1438H/ 11 September 2017M 11:00 WIB

    KAJIANMEDAN.ID--Terlahir sebagai anak ke-2 dari dua bersaudara. Marwan Rangkuti bernama kunyah Abu Zahid ini memiliki ibu berdarah jawa dan ayahnya berdarah mandailing. Saat kecil ia tinggal dilingkungan dengan mayoritas  warganya bersuku jawa, sehingga walaupun ia berdarah mandailing namun lebih fasih berbahasa jawa. Dalam kehidupan beragama, Ayahnya memiliki latar belakang Tariqat  sedangkan sang Ibu  berlatar belakang Muhammadiyah. “Sehingga dalam pendidikan agama sewaktu kecil kultur tradisional dan modern telah diterapkan dalam membentuk diri saya. Orang tua selalu mengingatkan apapun pekerjaan yang kita tekuni kedepan jangan tinggalkan Shalat dan berpeganglah selalu dengan al-Qur’an serta al-Hadits, selalu ingat berbagi ketika lapang juga jangan putus dalam berdo’a,” kisah Ustadz Marwan.

    Ustadz yang lahir di Medan pada 19 Juni 1987 ini menempuh pendidikan umum SD dan SMP di Yayasan Pendidikan Taman Siswa kota Medan, dan SLTA di Yayasan Pendidikan Raksana kota Medan, serta S1 di STT-Harapan juga kota Medan. Sedangkan riwayat pendidikan tidak formal yang pernah ia tempuh adalah di Ma’had al-Fitiyyan tidak sampai selesai, menjadi mustami’ di Ma’had as-Sunnah sekitar 6 bulan, juga berkhidmad kepada Maulana Salman, Lc alumni Rewind Pakistan, serta berkhidmad kepada Buya Muhammad Fatih al-Malawi mudir Ma’had ats-Tsaqafiy.

    Setelah lulus kuliah sebagai ma’isyah, ustadz yang paham dengan fiqih muamalah ini juga pernah bekerja sebagai penjaga warnet, asisten laboraturium computer di kampus tempatnya belajar serta menjadi guru private yang sudah sejak kelas 2 SLTA ia tekuni, kemudian menjadi guru di salah satu SMK di kota medan, dan terakhir ia menjadi tenaga pengajar di Ma’had ats-Tsaqafiy hingga saat ini, juga sebagai guru private.

    “Belajar dan Beramallah terus menerus, dengan pedoman al-Qur’an dan al-Hadits. Merasa lelah dan jenuh itu manusiawi namun harus dikendalikan dengan pamahaman Islam sehingga tidak merusak. Terkadang penyebab kejenuhan dan kelelahan itu adalah keluarga serta pekerjaan, nah disaat-saat kritis ini, bila kita memiliki pemahaman Islam yang benar kita akan memahami bahwa ragam kesenagan dunia tadi tidak kekal dan merupakan ujian sebagaimana firman Alloh SWT:

    'Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali Imran: 14)' maka segera kita mengembalikannya kepada Alloh SWT, dengan meningkatkan taqarrub kita kepada Alloh SWT,” jelas ayah dari sepasang putra-putri, yang sedang menunggu kelahiran anak ketiganya. 

    Persatuan Umat adalah Wajib

    Ustadz Marwan mengisi kajian dibeberapa masjid kecil di Medan dan Tanjung Morawa. Menurutnya, umat pada saat ini berada pada titik terendah dalam peradaban Islam, dimana dalam perjalanan sejarah Umat Islam yang panjang mereka dahulu tidak pernah dinistakan agamanya, dihinakan Tuhan dan Rasulnya, dilecehkan kehormatannya, ditumpahkan darahnya, dimiskinkan padalah kekayaan alam yang Alloh SWT berikan kepada mereka melimpah, ditelantarkanya hukum-hukum Syariah, dipimpinya mereka oleh penguasa ruwaibidhah dan diasuhnya mereka oleh ulama su’, innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

    “Bila umat ingin bangkit sebagai mana kemuliaan mereka terdahulu, dan mereka juga adalah umat mulia yang dijanjikan Alloh SWT maka pehunihilah seruan Allah untuk menerapkan seluruh syari’ahnya secara kaffah dalam setiap lini dimensi kehidupan, dan hal ini tidak bisa ditawar-tawar,” tegasnya.

    “Umat butuh persatuan yang hakiki dengan pondasi aqidah, dan bukan ashabiyah yang semu, ukhuwah Islamiyah yang hakiki ini adalah tuntutan syariah, sebagaimana Alloh tegaskan:

    'Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (al-Hujurat: 10)'

    adapun berpecah belahnya umat diharamkan, sebagaimana firman Alloh SWT:

    Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…(Ali Imran:103)

    dan ini pernah terwujud dengan adanya junnah umat yakni Khilafah, sayang ada usaha massif untuk mengkriminalisasi Khilafah, padahal ini adalah ajaran Islam yang jelas termaktub dalam kitab-kitab fiqih, tafsir, ushul fiqih bahkan aqidah karya para ulama klasik dan kontemporer, penolakan atas kewajibannya adalah penolakan atas salah satu hukum Syariah yang akan membuat Alloh SWT murka, hanya orang pandir yang berani menantang Alloh SWT dengan mengkriminalkan ajaran Islam,” jelasnya.

Bagikan : Google Facebook Twitter


Posting Terbaru