• Doktrin Yahudi di Indonesia: Semua Agama Sama!

    Rabu, 08/02/2017 15:09:46 WIB

    KAJIAN MEDAN -- Orang Betawi sampai awal abad ke-20 dengan takut memanggil bangunan dengan enam pilar sebagai penyangganya adalah 'rumah iblis'. Hal ini terletak di seberang Gedung Mahkamah Agung (MA) selama Bung Karno dan awal pemerintahan Soeharto. Bangunan MA itu sendiri terletak di sebelah kanan Perbendaharaan di Lapangan Banteng, yang semula direncanakan oleh Gubernur Jenderal Daendels untuk dibangun oleh Istana, namun gagal melakukannya.

    Gedung Iblis terletak di Vrijmet Selaarweg (sekarang Jalan Budi Utomo), tidak jauh dari Kantor Pos Baru Pasar, Jakarta Pusat. Bangunan yang memiliki loge (loji) adalah asosiasi Theosofi De Ster di het Oosten atau Bintang Timur. Tapi yang lebih populer dengan nama rumah setan, namanya berbisik pribumi dengan rasa takut. Di masa lalu, di samping 'rumah iblis' adalah perumahan pejabat dan pejabat Belanda.

    Di rumah Iblis inilah yang kemudian di awal abad 20 menjadi gedung farmasi Rathkamp dan sekarang Kimia Farma setelah diambil alih oleh pemerintah Indonesia menjadi pusat kegiatan Freemasonry sebuah gerakan yang menjadi legislator Zionisme sejak abad ke-18 di Indonesia. . Itu kemudian disebut 'La Choisile' yang didirikan pada tahun 1763 oleh Jacobus Cornelis Mattheus Roderman Cher (1741-1783) dan enam temannya.

    'La Choisile' kemudian membangun dua pondok lainnya, yang kebanyakan adalah pejabat militer dan Belanda Belanda, termasuk petugas VOC. Menunjukkan sejak ratusan tahun yang lalu orang Yahudi telah memperluas sayapnya di Indonesia. Sebelumnya di Noordwijk (Jl Juanda) dan Rijswijk (Jl Segara), yang merupakan pusat perdagangan dan pertokoan di Batavia banyak orang Yahudi membuka sebuah toko.

    Baik loge (loji) sampai sekarang masih berdiri meski fungsinya telah berubah menjadi pabrik Kimia Farma. Di dekatnya ada SMA Budi Utomo yang terkenal.

    Pada permulaan gerakan Freemason atau Vrijmetselarij dalam bahasa Belanda, menggunakan topeng persaudaraan, kemanusiaan, tidak membedakan agama dan ras, warna kulit dan gender, apalagi tingkat sosial di masyarakat. Mereka menekankan gerakan mereka pada kegiatan ilmiah dan ilmiah. Gerakan ini juga memberikan beasiswa kepada siswa berbakat. Tak heran banyak tokoh masyarakat bersimpati terhadap gerakan ini.

    Salah satu dari banyak doktrin yang sangat diajarkan dalam persaudaraan 'Freemason' adalah sikap mereka terhadap agama. Mereka menganggap semua agama sama. Ini persis sama dengan apa yang kita hadapi berhari-hari dengan nama lain: pluralisme. Dan memang pluralisme adalah ajaran pemikiran Yahudi. Tuliskan Herry Nurdi dalam buku 'Jejak Freemason & Zionist di Indonesia'. Menurut orang tua, banyak orang sendiri yang ditipu untuk berpikir bahwa orang Yahudi keturunan Arab karena mereka menggunakan bahasa ini dengan fasih.

     

    Sumber: Republika

Bagikan : Google Facebook Twitter


Posting Terbaru