• 'Onar', KH Hasjim Asj'ari: Sikap NU Soal Penistaan Agama di Januari 1938 (akhir)

    Selasa, 04/18/2017 09:08:37 WIB

    KAJIAN MEDAN -- Sesungguhnya orang kita harus malu mengadakan protest meeting terhadap kejadian semacam ini, sebab dengung suara kita yang pertama belum hindar dari telinganya, sudah diberikuti kejadian yang kedua. 


    Mulut kita belum lagi hilang buihnya memprotes yang kedua, diberikuti pula oleh kejadian yang ketiga. Belum lagi kita turun dari podium tempat kita memperdengarkan protes ketiga, bersualah kita kejadian keempat, berulang-ulang sejak majalah "Hoa Kiaw" sampai sekarang tak dapat menghitung lagi. Menghina Nabi, merobek-robek Alquran, menginjak-injaknya, dan sesamanya.

    Kita harus menempuh lain jalan yang lebih mujarab tetapi wettig! Kita harus memutuskan antero perhubungan kita dengan pihak yang celemer tangannya dan pihak yang membiarkan perbuatannya. Kita harus berdiri atas kaki sendiri, tidak lagi "ma'mum" pada partij-partij yang mempermainkan kita dan tidak mengakui hak-hak kita sebagai manusia terhormat yang berperasaan dan berpikiran.

    Penghinaan-penghinaan atas diri kita umat Islam selamanya akan terjadi, selama kita tidak memperlihatkan kecakapan kita berdiri atas kaki sendiri, mengadakan partij-partij politik sendiri, selaras dengan i'tiqad dan faham kita, menggalang pergerakan perekonomian sendiri, dan lain-lainnya.

    Selama kita menjadi ma'mumnya partij-partij yang tidak memberi tempat kehormatan pada kita dan meninggalkan partij-partij Islam seperti sekarang ini, selama itu, orang mengetahui kelemahan dan kebodohan kita, dan selama anggepan orang misih begitu, kita tidak akan terhormat selama-lamanya.

    Dalam kalangan kita sungguh sudah komplit, gerakan Igama dari kaum Nahdlatul Ulama, dari kaum Muhammadiyah, gerakan politik Co "Penyedar", gerakan politik non-Co "PSII", dan lain-lainnya lengkap dengan bahagian pemudanya dan puterinya dan lain-lain.

    Selama kita MENGEMIS jangan harap memperoleh kehormatan! Selama kita tak pandai menghormati pendirian-pendirian kita sendiri, jangan mengharap orang menghormati kita! Bangsa Indonesia yang terhormat!

    Kami tidak menganjurkan perpisahan dalam kalangan sebangsa, asalkan kamu misih menghendaki persatuan kita, akan tetapi kami merasa berhak ambil tindakan yang kupandang perlu, bilamana ada sebab-sebab yang memaksanya. Penghargaan kita kepada persatuan nasional, tidak sekali-kali membuta-tuli, ridha mengorbankan kesucian Igama kita, kehormatan Nabi besar, syare'at Islam kita, kebenaran kita, kemulyaan dan umat dan kebesaran masyarakat kita.

    Sebagaimana bukan semuanya orang kafir itu musuh kita, begitupun juga bukan semuanya sebangsaku kawan kita.
    Umat Islam yang terhormat! "Kamu sebaik-baik umat yang dikeluarkan kepada manusia. Kamu memerintah kebajikan dan melarang kebusukan." (Alquran).

    Betapakah kamu bisa mewujudkan amar makruf dan nahi mungkar selama kamu tidak memunyai tenaga dan kekuatan? Dan betapakah tenaga dan kekuatanmu ada, selama kamu meninggalkan barisanmu sendiri? Meninggalkan Nahdlatul Ulama-mu, Muhammadiyah-mu, Penyedar-mu, PSII-mu, dan lain-lain gerakan Islammu?

    Betapakah kamu menjadi sebaik-baik umat jikalau kamu misih menjadi --maaf-- pengemis? Mengekor di belakangnya orang atau golongan yang meludahi mukamu?

     

    Sumber: Republika

Bagikan : Google Facebook Twitter


Posting Terbaru