• Hakekat dan Konsekuensi Keimanan

    Kamis, 04/13/2017 12:52:22WIB
    KAJIANMEDAN- Tidak ada nikmat dan karunia paling utama setelah kita dibimbing daripada nikmat kecintaan pada kembali ilmu agama untuk mengikuti jalan rasul. Kecintaan untuk selalu berusaha mengikuti jalan Rasul, yang memudahkan jalan kita ke Surga Allah. Termasuk kenikmatan iman Pada Allah subhanallahu wa ta’ala. Beriman pada allah, adalah rukun iman pertama.

    Apalah hakekat iman pada Allah? Iman pada Allah terbagi menjadi dua, iman secara  global dan terperinci. Iman secara global yaitu beriman sebagai sebuah kewajiban, dan itu merupakan syarat sah dalam rukun iman islam, lalu bagaimana dengan iman yang sempurna? Keimanan yang sempurna ada hal wajib yang kita ketahui, agar iman kita sempurna dan selalu bertambah. Karena iman itu bertambah dan berkurang.

    Iman secara tafsir dan terperinci, adalah hal pertama yang wajib dipelajari. Dimulai dengan mengenal Allah subhanallahu wa ta’ala. Bahwa iman menurut aqidah sunnah mencakup perkataan dan perbuatan. Perkataan hati dan perkataan lisan. Perkataan hati berupa ikhlas, taqwa. Sedang Perbuatan berupa shalat, gerakan shalat dan beramal ma’ruf nahi mungkar.

    Iman itu memiliki lebih dari 73 lebih cabang keimanan. Yang paling tinggi adalah “La Ila Hailllah”, sedang yang paling rendah adalah membuangkan duri dari tengah jalan. Dan sifat malu adalah bagian dari iman. Iman merupakan keyakinan di dalam hati yang diucapkan lisan dan dijalankan anggota badan untuk mentaati Allah.

    Dengan beriman kepada Allah ada 3 hal yang wajib diyakini kemudian di aplikasikan oleh lisan dan anggota badan, yaitu:

    • Kita yakini bahwa Allah Rabb Alam Semesta, (Tuhan-bahwa Allah zat satu-satunya yang berbuat, menciptakan, mengatur dan menguasai alam semesta ini) Ruhubiah Allah. Dan manusia secara umum itu telah diciptakan diatas fitrah yang lurus dan mampu meyakininya. Dan manusia yang mengingkari ini hanya segelintir, seperti Firaun. Zaman sekarang yang mengingkarinya adalah orang atheis, komunis, yang banyak tersebar di Barat, yang disebabkan pertukaran budaya.
    • Iman menyakini bahwa Allah, Rabb yang memiliki nama Asmaul Husna dan sifat yang sempurna dan mulia. Memiliki nama yang indah, yang terbaik, dan serulah Ia dengan nama tersebut. Allah memiliki nama yang sangat tinggi. Karena Allah sebutkan “Walillahi Asmaul Husna, karena setiap nama Allah itu mengandung makna yang sempurna, yang berarti sifat Allah yang sempurna. Nama Allah itu Basir, al basar berarti penglihatan, maha melihat. As sami', maha mendengar, makna pendengaran. Al alim, al ilmu, ilmunya meliputi segala sesuatu. Al hail, al haya' penghidupan dan Al ghafur maha pengampun. Wahuwal ghofur yang memiliki arrahmah. Allah yang memperkenalkan diinya pada kita hamba yang hina dina ini. Serulah dan memohon pada Allah dengan namanya itu. Ingat Allah, puji Allah dan memuji itu ibadah. Tujuan Allah agar kalian tahu Allah menguasai atas segala sesuatu, dan ilmu Allah meliputi segala sesuatunya.
    • Mengimani dan meyakini Allah punya sifat sempurna, dan nama yang indah itulah yang berhak kita sembah, tidak ada sekutu baginya dan kesyirikan. Ibadah itu artinya seluruh perbuatan dan perkataan yang diridhai Allah, dan itu hanya kita sembahkan pada Allah semata, disertai dengan kecintai yang tulus pada Allah, disertai dengan rasa harap, takut pada Allah dan kemudian tunduk padanya.

    (Bersambung)
    Disari dari ceramah Tabligh Akbar Ustadz Muhammad Nur Ihsan MA asal Jember di Masjid Raya Taqwa Muhammadiyah, Medan Amplas, Pada hari Jumat, 3 Rajab 1438H/31 Maret 2017, Ba'da Isya.

Bagikan : Google Facebook Twitter


Posting Terbaru