• Jerat Riba Vs Gerakan Dakwah Islam di Pedesaan (1)

    Senin, 04/10/2017 13:22:16 WIB

    KAJIAN MEDAN -- Masyarakat di pedesaan masih banyak yang lebih besar pasak daripada tiang. Hal tersebut bukan karena gaya hidup mereka boros, tetapi karena mereka tidak mempunyai penghasilan yang tetap. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan dasar saja bisanya mereka harus meminjam uang.

    Meminjam uang kepada lintah darat atau rentenir biasanya menjadi pilihan mereka, mengingat proses meminjamnya yang mudah. Kondisi seperti ini juga terjadi di Desa Jampang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

    Melihat kondisi masyarakat yang terjebak dalam jerat lintah darat, Cahyadi (44 tahun) yang lebih dikenal dengan sebutan Kang Yadi oleh masyarakat sekitar berupaya membebaskan masyarakat dari jerat riba. Pria kelahiran tahun 1973 tersebut mengaku, sangat risau melihat masyarakat terjerat riba. Sementara, manusia diwajibkan harus saling tolong-menolong dalam kebaikan.

    "Terjadi kemunkaran di tengah masyarakat, saya tidak bisa membiarkan hal seperti itu terjadi," ujarnya saat ditemui Republika.co.id, di halaman Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta, Ahad (9/4).

    Cahyadi mengungkapkan, perjuangan untuk membebaskan masyarakat sekitar dari riba dan memberdayakannya memang belum maksimal. Tapi, tetap punya keinginan kuat untuk terus berjuang selangkah demi selangkah.

    Harapannya, kampung tempat tinggalnya bisa terbebas dari riba, meski setahap demi setahap dan memerlukan perjalanan yang panjang. Raut wajah Kang Yadi tampak serius. Dia menyampaikan dengan nada optimis, apapun akan diupayakan yang penting masyarakat tidak lagi terjerat riba.

    Kemudian, setelah terlepas dari jerat riba, masyarakat bisa mengubah gaya hidupnya. Sehingga masyarakat bisa lebih mandiri secara ekonomi. Membantu warga desa yang kesulitan bagi Kang Yadi sudah menjadi candu. Ia mengaku mendapatkan kebahagiaan tersebdiri hanya saat bisa membantu.

    Sejak tahun 2000, Kang Yadi sudah sering membantu masyarakat sekitar. Misalnya ada warga di desanya yang sakit, dia bantu membawanya ke Rumah Sakit (RS). Ia mengaku, ada kebahagiaan tersendiri yang dirasakan saat bisa membantu sesama manusia.

    Pada akhir 2013, Kang Yadi yang mendapat kepercayaan dan dukungan dari Laznas Al-Azhar mendirikan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pelita Jampang Gemilang. Salah satu gerakan KSM adalah membantu masyarakat melunasi hutang ribanya.

    Bantuan yang diberikan KSM kepada masyarakat pun tanpa bunga. "Contohnya ada ibu-ibu yang meminjam uang Rp 1 juta ke KSM, ibu tersebut juga mengembalikan uangnya Rp 1 juta," ujar Kang Yadi sambil tersenyum.

    Disamping membebaskan masyarakat dari cengkeraman lintah darat, KSM juga merupakan gerakan dakwah. Ia menerangkan, mereka yang meminjam uang dari KSM juga disarankan ikut kegiatan mengaji yang dijadwalkan setiap pekannya. Sambil mengaji, mereka bisa membayar angsuran ke KSM, tapi tidak ada paksaan atau tekanan harus bisa membayar.

    Sebagai gerakan dakwah, KSM juga mengharuskan anggotanya mengikuti pengajian, menabung, melakukan infak tabaru untuk biaya kesehatan ketika sakit dan menanam pohon di halaman rumahnya. Bisa menanam cabai, tomat, terong dan lain sebagainya. Tujuannya agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dapur mereka.

     

    Sumber: Republika

Bagikan : Google Facebook Twitter


Posting Terbaru