• Ekonomi Islam dan Islam Dalam Berekonomi (habis)

    Jumat, 04/07/2017 16:54:47 WIB

    KAJIAN MEDAN -- Di bangku-bangku sekolah dan perkuliahan, kita diajarkan bahwa permasalahan utama ekonomi ialah kelangkaan Sumber Daya Alam (SDA), sehingga mindset tersebut terpatri dalam otak bawah sadar dan terjadilah eksploitasi sumber daya oleh manusia-manusia yang takut kehabisan sumber daya yang ada oleh manusia yang lain. Kesalahan filosofi inilah yang kemudian membuat manusia harus memperjuangkan eksistensinya dengan cara memperebutkan sumber daya yang mereka anggap memiliki keterbatasan (langka), persis seperti kue yang diperebutkan oleh banyak orang. Seorang tokoh Ekonom Barat Alfred Marshel pernah mengatakan : “No moral in economic”. Lalu akibat dari ini apa yang terjadi ?
    Bank Dunia menyatakan bahwa Koefisien Gini Indonesia mencapai rekor tertinggi, hal ini diperlihatkan dengan peningkatan dari 30 poin pada tahun 2000 menjadi 41 pada tahun 2014. Bahkan tingkat kesenjangan Indonesia melaju paling cepat di antara negara-negara tetangganya di Asia Timur. Padahal beberapa negara Jiran seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand mengalami penurunan angka Koefisien Gini. Melebarnya kesenjangan ekonomi juga dicerminkan dari terpusatnya akumulasi kekayaan pada minoritas penduduk Indonesia. Mengacu data Credit Suisse, Bank Dunia mencatat 10% orang kaya menguasai sekitar 77% dari seluruh kekayaan aset dan keuangan di negara ini. Atau dengan kata lain, 1% orang terkaya di Indonesia menghimpun separuh total aset negara ini. Rasio tersebut setara dengan Thailand, yang menempati posisi kedua dari 38 negara yang didata Credit Suisse. Peringkat pertama adalah Rusia, di mana 1 persen orang terkayanya menguasai 66,2 % dari total aset negara tersebut. Dengan kata lain, kesalahan sistem ekonomi telah membuat yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.
    Di lain sisi, Al-Quran menyatakan bahwa seluruh sumber daya yang ada Allah ciptakan sesuai dengan ukurannya. Artinya, sebanyak apapun populasi manusia di muka bumi ini tidak akan ada satu pun manusia yang meninggal karena alasan kelaparan jika sumber daya yang ada dikelola dengan benar. Dalam sebuah ayat Allah berfirman bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran (Al-Qamar: 46). Maka permasalahan ekonomi yang sebenarnya bukanlah scarcity, akan tetapi harta dan bagaimana cara mengelola serta mendistribusikannya. Hal ini dilakukan supaya setiap harta tidak beredar hanya di kalangan orang-orang kaya saja (Al-Hasyr:7). Berpusatnya kekayaan hanya di kalangan orang-orang kaya yang kemudian mengakibatkan ketimpangan sosial sangat di kecam dalam ekonomi Islam (Money Concentration).
    Untuk menyelesaikan masalah tersebut, Islam menawarkan solusi konkret seperti zakat, infaq, shadaqah, waqaf, dan berbagai instrumen lainnya. Oleh karena itu ekonomi Islam setidaknya mengandung dua unsur: Moral economic and legal economic. Ia harus legal secara Islam dan harus mengandung nilai-nilai moral. Tidak heran Rasul pernah bersabda “Belum dikatakan beriman salah satu di antara kalian jika tetangga kalian tidak makan sementara kalian berada dalam kecukupan”. Maka ekonomi Islam bukan hanya ekonomi yang coba dicari nilai-nilai dan sistemnya dalam Islam, tetapi juga Islam dalam berekonomi.



    Sumber: http://www.dakwatuna.com/

Bagikan : Google Facebook Twitter


Posting Terbaru