• Pendidikan di Negeri Barat : Mereka Merusakkan Lego Yang Dibangunnya Sendiri (Habis)

    Kamis, 04/06/2017  07:55:42 WIB

    KAJIAN MEDAN -- Kisah miris juga terjadi pada masyarakat muslim yang tinggal di negeri kangguru ini. Ketika seorang ayah menegur keras anak gadisnya dikarenakan anak gadisnya berhubungan dengan lelaki yang berwajah dan berprilaku kurang baik, memakai anting-anting, rambut dicat warna-warni, celana panjang sobek-sobek, lalu diketahui minum bir pula maka yang terjadi malah konflik antara ayah dengan anak gadisnya. Ayah muslim baik-baik mana yang mau anak gadis muslimahnya berhubungan mesra dengan lelaki seperti ini. Maka hubungan anak perempuannya dengan lelaki yang kurang baik tadi sangat dilarang dan berkali-kali menimbulkan konflik keras antara ayah dengan anak gadisnya. Sampai suatu hari sang ayah tidak tahan karena anak gadisnya sempat tidak pulang beberapa waktu, maka sang ayah pun menampar putrinya. Lalu ketika putrinya mengadukan hal ini kepada kawan-kawannya dengan memperlihatkan bekas tamparan ayahnya di pipi yang mulus itu, maka sang anak gadis itu dipengaruhi kawan-kawannya untuk melapor ke polisi. Alhasil sang ayah yang sebenarnya khawatir dan sayang kepada anak gadisnya ini, ditangkap polisi dan ditahan di penjara selama beberapa waktu lamanya.

    Kisah ini diceritakan oleh seorang ibu jemaah pengajian yang merasa heran dengan sikap dan peraturan di negeri itu. Sungguh, kalau mau jujur tidak ada orangtua yang mau berpisah dari anaknya. Bahkan mereka sedih bila sudah tua karena tidak ada anak yang berkunjung atau memperhatikannya. Namun atas dasar hak asasi manusia seorang anak diperbolehkan berbuat apa saja, termasuk membantah orangtua dan bahkan berpisah dari orangtuanya. Padahal pendidikan anak-anak di negeri itu dari sejak masih kecil sangat bagus namun ketika menjelang dewasa (remaja), sistem yang berlaku membuat  banyak orangtua kehilangan anaknya, kehilangan dalam dua arti, kehilangan secara fisik (anak tidak pernah berjumpa lagi dengan orangtuanya) dan kehilangan secara maknawi (anak tidak dekat dan tidak peduli serta tidak ingat pada orangtuanya lagi).

    Orangtua yang telah membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang sejak lahir, dengan mengikuti berbagai metode dan cara yang sangat bermutu, ketika menginjak remaja seperti kehilangan ikatan keluarga dikarenakan sistem yang katanya menjunjung hak asasi manusia. Hal tersebut bagaikan “membangun lego yang rumit dan bagus dengan susah payah, namun kemudian ketika lego itu sudah jadi akhirnya dihancurkannya sendiri dengan sistem yang tidak tepat.”

     

    Sumber: eramuslim.com

Bagikan : Google Facebook Twitter


Posting Terbaru