• Keistimewaan Jawahir al-Bukhari


    Selasa, 03/06/2017, 16:26:13 WIB

    Kitab karya Syekh Muhammad Musthafa Imarah ini memiliki keistimewaan dibandingkan kitab sejenis karena berisi penjelasan atau keterangan terkait kata-kata yang memerlukan penjelasan lebih perinci.

    Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah al-Jufri atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Bukhari (194-256 H) adalah seorang ahli hadis yang sangat populer di dunia Islam. Namanya melekat erat dengan hadis-hadis sahih Rasulullah SAW. Karena keahlian dan kepakarannya dalam bidang hadis, tak heran bila Imam Bukhari ditempatkan sebagai panglima hadis Rasulullah SAW.

    Kitabnya Jami' al-Shahih dan dikenal dengan nama Shahih Bukhari menjadi rujukan bagi seluruh ulama ataupun peminat ilmu hadis dalam mempelajari sejarah Rasulullah SAW, terutama berkaitan dengan perkataan Rasulullah SAW.

    Karangannya yang memuat ribuan hadis sahih telah menarik minat para ulama hadis untuk meneliti lebih dalam tentang metodologi Imam Bukhari dalam menempatkan hadis yang sesungguhnya bersumber dari Rasulullah SAW. Imam Bukhari tak mau memasukkan hadis-hadis Rasulullah yang periwayatannya berasal dari orang-orang yang kurang dhabit (tidak kuat hafalannya), tidak tsiqah, dan tidak adil.

    Karena itu pula, kitab Shahih Bukhari begitu banyak diminati para ulama dalam mempelajari hadis-hadis Rasulullah SAW. Salah seorang alim yang turut mempelajari dan memberikan komentar (syarah) atas kitab Imam Bukhari adalah Syekh Musthafa Muhammad Imarah al-Mishri dengan karyanya Jawahir al-Bukhari (Permata-permata Bukhari).

    Selain komentar atas Shahih Bukhari, Syekh Musthafa Muhammad Imarah juga memberikan komentar atas kitab Muktashar al-Irsyad karya Syekh Ahmad bin Muhammad bin Abi Bukrah bin Abd al-Malik bin Ahmad bin Muhammad bin Husayn bin Ali al-Qasthalany al-Qahirah al-Syafi'i. Kitab Jawahir al-Bukhari yang diterbitkan oleh Dar al-Fikri ini memuat sekitar 800 lebih hadis-hadis sahih riwayat Imam Bukhari yang ditulis kembali oleh Syekh Musthafa Muhammad Imarah.

    Sumber: republika.co.id

     

Bagikan : Google Facebook Twitter


Posting Terbaru