• Ta'lim Al-Muta'allim, Metode Belajar yang Baik


    Sabtu, 02/18/2017, 12:13:39 WIB

    KAJIANMEDAN-Bagaimanakah caranya agar mudah mendapatkan ilmu pengetahuan? Apa yang harus dilakukan agar mudah menghafal pelajaran yang diberikan guru di sekolah?

    Mengapa ilmu yang sudah didapatkan kurang bermanfaat? Dan, masih banyak pertanyaan lainnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kerap diungkapkan banyak pelajar dari dahulu hingga sekarang.

    Ada yang sudah berusaha menghafal pelajaran hingga larut malam, namun begitu ujian tiba, malah lupa akan pelajaran yang dihafal. Bahkan ada yang bertahun-tahun menuntut ilmu pengetahuan, namun ia tidak tahu harus diapakan ilmu yang sudah didapatkan. Ada pula yang sudah bertahun-tahun belajar, namun tak juga paham akan pelajaran tersebut. Mengapa hal ini bisa terjadi?

    Bila pertanyaan ini diajukan pada Syekh Burhanuddin al-Zarnuji, pengarang kitab Ta'lim al-Muta'allim Ila Thariqah al-Ta'allum, pastinya beliau akan mengatakan, karena seseorang itu tidak sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, tidak taat sama gurunya, tidak fokus, suka main-main, dan lain sebagainya.

    Kitab Ta'lim al-Muta'allim ila Thariqah al-Ta'allum yang lebih dikenal dengan nama Ta'lim Muta'allim, adalah satu-satunya karya Syekh Burhanuddin al-Zarnuji. Di dalam kitab ini, al-Zarnuji menjelaskan tentang metode belajar yang baik. Ia membagi kitabnya ini dalam 13 bab, yang semuanya itu dimaksudkan agar seorang pelajar bisa mendapatkan ilmu dengan baik dan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

    Di kalangan pesantren, khususnya yang berbasis salafiyah (tradisional), kitab ini merupakan salah satu yang dipelajari. Kitab ini menjadi acuan sekaligus bimbingan bagi penuntut ilmu agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

    Dalam kitab ini banyak sekali terdapat petunjuk bagi seorang penuntut ilmu. Misalnya, dalam memilih guru atau teman sebagai 'kawan' berdiskusi dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada dalam masyarakat. Syekh al-Zarnuji juga menuliskan tentang cara memuliakan ilmu, orang yang berilmu (guru), kewajiban seorang murid sebagai penuntut ilmu, dan lain sebagainya.

    Dalam hal hubungan dengan seorang teman, Syekh Al-Zarnuji menyatakan: Laa tashhibu al-Kaslan fi haalaatihi, kam Shaalih bifasaadi Aakhir yufsidi (Janganlah engkau bergaul dengan seorang yang pemalas, banyak orang baik lantaran bergaul dengan orang yang rusak tingkah lakunya, akhirnya ia menjadi rusak).

     Sumber: republika.co.id

Bagikan : Google Facebook Twitter


Posting Terbaru