• Hijrahku Dari Riba

    Menjadi karyawan di salah satu bank menjadi angan-angan sebagian orang, khususnya bagi mereka yang tengah mencari pekerjaan setelah tamat dari bangku kuliah. Memilih bank dengan label syariah salah satu upaya agar terhindar dari riba. Namun, apakah bank tersebut sudah menjalankan sesuai dengan prinsip syariahnya?
    Kalimat itu dengan semangat disampaikan Nurul Habibah kepada Komunitas Anti Riba, Marikongsi. "Awalnya saya dapat rekomendasi seorang teman, saya pikir, kenapa nggak dicoba, kan banknya juga syariah. Tapi setelah makin jauh saya jalani dan masuk ke dalam sistem, banyak hal-hal ganjil yang saya temukan di lapangan dan tidak sesuai dengan syariah," ujarnya.
    Wanita yang akrab disapa Nurul ini mengaku, salah satu hal yang membingungkan dan tidak bisa Ia terima adalah saat ia mengetahui bahwa ada dua jenis akad yang digunakan dalam proses pencairan dana. “Jadi seolah-olah akad itu yang mengikuti sistem yang bank buat, bukan malah bank yang mengikuti akad yang sudah ditentukan”, jelasnya.
    Belum lagi persoalan tentang perusahaan ini yang menerima karyawan dan nasabah non muslim sebagai pelaku pembiayaan. Menurutnya dalam proses bank syariah sudah tentu menggunakan akad dan dalam akad tersebut tentulah menggunakan ayat dan prinsip keislaman. “Saya sempat kaget waktu tahu ternyata ada karyawan non muslim dan nasabahnya juga boleh non muslim. Kebetulan waktu itu saya di bagian pembiayaan untuk usaha menengah kebawah. Dari beberapa hal yang saya pelajari dan pahami, bagaimana mungkin akad bisa sampai kepada salah satunya jika nasabahnya muslim tapi karyawannya non muslim atau bahkan sebaliknya? Jelas akad akan gugur,” terang Nurul bersemangat.
    Nurul menjelaskan pula bahwa di dalam islam, hukum antara seorang laki-laki bukan mahram dengan Non muslim adalah sama hukumnya, haram memperlihatkan aurat juga batal jika bersentuhan kulit. “Karyawan bank kami selalu menyiapkan wisma khusus untuk para karyawan yang isinya ada sekitar 5-6 orang per area. Lalu bagaimana mungkin, kami yang notabene nya tinggal serumah bisa terhindar dari saling sentuh dan bebas dari menampakkan aurat kalau sudah sekamar?” jelasnya.
    Keganjalan lainnya, sebut Nurul saat ia mulai melakukan input data ke sistem, kebetulan waktu itu tugas Nurul tak hanya bisnis tapi juga operasional. "Ditiap ada Nasabah baru, kami akan melakukan penginputan data ke sistem. Disana saya mulai mengetahui bahwa yang dikatakan kepada tiap nasabah bahwa tidak ada bunga dan menggunakan bagi hasil nyatanya tetap dikenakan bunga sebesar 30%.”
    "Belum lagi tentang Tabungan wajib," lanjut Nurul. "Jadi setiap nasabah yang baru akan melakukan pencairan, maka harus mengeluarkan tabungan wajib sebesar 10% dari pinjaman. Kemudian karyawan pembaca akad akan mengatakan bahwasanya itu bukan bentuk potongan, tapi adalah tabungan wajib yang nantinya boleh di ambil diakhir ketika pinjaman selesai. Namun sebenarnya, menurut saya, nasabah telah dibohongi. Karena tabungan wajib itu sesungguhnya adalah jaminan untuk nasabah kalau sekiranya nasabah menunggak ditengah jalan atau bahkan kabur. Artinya jika karyawan mengatakan bahwa tidak ada agunan pada nasabah, itu salah besar, karena sesungguhnya uang yang disisihkan dengan alasan tabungan itu adalah bentuk agunan tanpa sepengetahuan nasabah."
    “Kalau dipertengahan jalan ada nasabah yang macet, maka di sistem  akan dilakukan proses ‘Intruksi Debet’ dari karyawan yang diambil dari tabungan wajib tersebut. Dan jika nasabah sudah bisa membayar keterlambatannya, maka uang yang dibayarkan itu akan dimasukkan kembali ke tabungannya, bukan ke setoran angsuran. Intruksi Debet ini dilakukan pada tabungan Nasabah tanpa sepengetahuan Nasabah. Sebenarnya untuk Intruksi Debet ini, karyawan tidak merasa bersalah karena memang di akad sudah disebutkan tentang Intruksi Debet, hanya saja terkadang karyawan ketika pembacaan akad, ada beberapa yang diplesetkan dan dibaca terlalu cepat. Nasabah yang sudah begitu menginginkan uang yang akan dipinjamkan, akan cepat mengiyakan meski sebenarnya mereka tidak mengerti karena notebene nasabah adalah para pegiat usaha menengah kecil di pedesaan,” tuturnya.
    Masih banyak hal lainnya yang dianggap Nurul tidak berkaitan dengan hukum syariah. "Masih ada yang lain, tapi intinya saya cuma mau bilang tinggalin dan keluar sekarang juga bila kalian sudah jadi bagian di Bank," ujarnya bersemangat.
    Lanjut Nurul, saat memutuskan keluar dari pekerjaan, jangan pernah takut akan rezeki, karena Allah telah mengatur rezeki setiap umatnya. "Ketika mau keluar memang sedikit takut. Banyak pertimbangan berdatangan. Kalau aku keluar dari sini, aku harus kerja apa, yah? Cari kerja sekarang susah. Nanti apa kata orangtua yah? Pertanyaan-pertanyaan ini pasti muncul, tapi balik lagi, ingatlah bahwa kita bukan kerja sama manusia, tapi kita kerja sama Allah. Harta manusia gak sebanding sama harta yang Allah punya," katanya.
    Wanita yang kerap disapa Nurul ini mengaku sangat sulit ketika ingin memutuskan untuk keluar dari bank. Hingga satu hari Allah memberi jalan agar mau tidak mau harus keluar dari bank. Nurul Kecelakaan yang menyebabkan lengan tangan kirinya mengalami dislokasi atau pergeseran tulang.
    “Waktu itu saya merasa Allah telah benar-benar mengambil keputusan. Ditengah kondisi kecelakaan dan harus cuti, disaat yang sama saya ditawarkan promosi jabatan menjadi wakil manager, tapi keinginan saya kuat untuk segera resign. Saya memohon izin pada ummi dan waktu itu saya tak lagi peduli setelah resign itu saya harus kerja dimana, mau jadi pengangguran atau tidak, yang saya tahu, saya harus keluar karena saya takut Allah akan marah lebih jauh dari ini,”jelasnya.
    Tepat seminggu sebelum akhirnya ia efektif resign dari bank, seorang teman lama datang lewat pesan BBM dan menawarkan untuk bergabung di Medianya yang baru saja berkantor. Qadarullah, waktu itu hari jumat ia keluar dari bank, hanya berselang weekend, di hari senin ia sudah memasuki kantor baru dan dengan salary yang sedikit lebih besar dari kerja di Bank. Allah tidak bercanda dengan rezeki hambanya. “Kalau kita meninggalkan sesuatu karena takut Allah murka, maka percayalah Allah lah yang punya kuasa untuk menggantinya dengan hal yang jauh lebih baik,” pesan Nurul.
    Lanjutnya, perlu diketahui beberapa hal yang membuat seseorang sulit untuk keluar dari bank adalah salah satunya karena fasilitas yang dipenuhi dari mulai transportasi hingga akomodasi yang di cover perusahaan secara utuh.Setelah keluar dari bank, ia merasa betapa Allah sangat sayang padanya. Tawaran pekerjaan menjadi trainer, fasilitator hingga menjadi guru private terus berdatangan. Lebih spesialnya lagi, ia mendapat tawaran tiba-tiba untuk ke Jakarta dengan gratis dan segala tiket keberangakatan serta penginapan yang telah disediakan untuk belajar coding langsung di kantor Microsoft, salah satu perusahaan yang mendunia itu. Fabi Ayyi Alaa Irabbikuma Tukadziban. Masih bilang ini bukan rencana Allah? Selang sebulan setelah di Media, ia juga mengisi kegiatan menjadi fasilitator bidang pendidikan di Djalaluddin Pane Foundation yang telah lama menanyakan kesediaannya bergabung ke yayasan tersebut jauh sebelum dirinya resign dari bank. Dengan pekerjaan baru sekarang, kata Nurul, ia lebih merasakan ketenangan.
    "Beruntungnya lagi saya, itu yang saya katakan bahwa Allah tidak bercanda dengan rezeki hambanya. Saya bergabung di dua tempat yang berbeda, lebih bebas berekspresi sesuai dengan passion saya. Pun spesialnya saya mendapatkan salary bahkan sampai 3 kali lipat dari apa yang saya dapatkan di Bank. Ya, ini memang bukan tentang salary, tapi ini tentang ketenangan hidup. Biar gaji kecil tapi hidup tenang dan tidak dihantui rasa bersalah salah satunya berbohong yang terus menerus di bank. Maka sekarang, beranilah mengambil sikap, keluar dari sekarang jangan sampai Allah yang memilihkanmu jalan agar segera keluar dari bank. Seperti saya yang kecelakaan waktu itu," tutup Nurul.

Bagikan : Google Facebook Twitter


Posting Terbaru