• Ada Tiga Induk Akhlak Rasulullah SAW

    KAJIANMEDAN-  Rasulullah SAW merupakan suri tauladan yang paling baik. Untuk itu, sebagai umat Islam, sebaiknya kita harus mencontoh akhlah mulia yang dimilikinya tersebut. Karena, akhlah mulia dari ajaran yang diturunkan, disampaikan, dan diajarkan langsung oleh Allah SWT.
    Hal ini disampaikan oleh Ustadz Amirudin saat memberikan tausyiah di Masjid Al- Jihad Medan, Rabu (25/1). “Maka dari itu, untuk kita sekarang, pedoman untuk memiliki akhlah mulia adalah mempelajari dan memahami Al Quran dan hadist. Hal ini harus seimbang antara keduanya, maksudnya adalah kita tidak dapat jika hanya mengandalkan Al Quran ataupun hanya mengandalkan hadist saja. Hal ini diibaratkan seperti dua sisi mata uang. Apabila salah satu dari sisi tersebut hilang, maka hilang jugalah nilai dari uang tersebut,”terangnya. Rasulullah SAW bersabda “Allah yang mendidik saya beradab, maka saya memiliki akhlak yang mulia,” (HR At-Tirmdzi dan Ahmad)
    “Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.”(Surah Al-Ahzab ayat 62)
    Setidaknya kata Amirudi ada tiga induk akhlak mulia yakni pertama, apabila seorang memiliki kemampuan berpikir (akal) yang baik dan bagus (khusnudzon), kedua apabila seseorang mampu mejaga hati dan yang terakhir apabila seseorang mampu menjaga hawa nafsunya.
    Lanjutnya, secara bahasa, akal memiliki arti kemampuan berpikir dan kemampuan memahami sesuatu dengan cara melihat dan memahami. Menurut Al Quran, akal adalah al-hijr yang memiliki arti mengikat atau menahan. Maksudnya adalah sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang untuk tidak terjerumus dalam kesalahan dan dosa.
    “Akal sendiri merupakan salah satu ciptaan dari Allah terhadap manusia. Hal ini merupakan salah satu yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Akal juga merupakan salah satu syarat seorang mukallaf (seorang muslim yang sudah dikenai kewajiban atau perintah),”
    Akhlak timbul karena ketaqwaan. Taqwa berbeda dengan Akal. Taqwa berasal dari hati. Akan tetapi ketaqwaan tidak akan didapat tanpa akal. Hal ini dikarekanan akal merupakan langkah untuk mendapatkan akhlak yang baik. Apabila seseorang memiliki Akal yang baik, maka Akhlak yang dimilikinya akan baik. Bila seseorang memiliki Akhlak yang buruk, maka akhlak yang dimilikinya akan buruk.
    Orang-orang tassawuf mengartikan taqwa sama dengan qalbu, dan tingkatan qalbu itu lebih tinggi dari pada akal, akan tetapi tetap tidak dapat dipisahkan. Hal ini didasari oleh setiap perbuatan berasal dari hati baru menuju kepada pemikiran. Adapun perbuatan bila didasari oleh pemikiran (analogi sama dengan sebelumnya bahwa akal merupakan langkah untuk mendapatkan akhlak yang baik), maka penentu dari perbuatan itu adalah hati (Qalbu). Maka dari itu, nilai akhlak dipengaruhi oleh qalbu.
    Inti nya adalah Akhlak yang baik terbentuk dari perbuatan dan hati yang baik. Kedua hal ini (perbuatan dan hati) harus selaras dan sejalan.
    “Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dialah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”(Surah Al-Qalam ayat 7
    “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(Surah Al-Qasas ayat 77) (Redaksi)

Bagikan : Google Facebook Twitter


Posting Terbaru